BERITA PROPERTI
Informasi Terkini Seputar Bisnis Properti
Siklus Properti Terjegal Krisis Ekonomi

Permintaan pasar properti yang seharusnya sudah menapaki kurva kenaikan ternyata masih terpengaruh krisis ekonomi.

Pergerakan bisnis properti yang terjadi di Indonesia sekarang ini harus diakui meleset dari perkiraan. Bisnis yang biasanya bergerak sesuai siklusnya, kali ini ternyata tidak. Hal itu disebabkan oleh pengaruh krisis ekonomi global yang berimbas pada krisis ekonomi lokal yang berkepanjangan.

Pertumbuhan ekonomi 2015 yang hanya mencatatkan angka 5% tidak sanggup mengerek daya beli masyarakat untuk membeli properti. Saat itu, permintaan kredit pemilikan rumah (KPR) menurun menjadi 7,6%.

Secara siklus, setelah booming pada 2013, permintaan pasar properti memang menurun pada 2014 dan 2015 dengan perkiraan akan kembali naik pada 2016. Sayangnya, prediksi itu salah.

Pasar properti 2016 belum beranjak dari titik terbawah. Permintaan KPR saat itu hanya tumbuh sangat kecil dari tahun sebelumnya menjadi 7,8%. Padahal, dalam waktu yang bersamaan kredit konstruksi dan kredit real estate tumbuh 20-25%.

Pakar properti Panangian Simanungkalit mengakui memang permintaan KPR masih lemah. Geliat pasar pada 2016 masih didorong oleh permintaan rumah di bawah Rp500 jutaan. “Artinya, siklusnya sudah bekerja, sudah terlihat geliatnya, tapi belum signifikan,” ungkapnya.

Akhir 2016, lanjut dia, permintaan pasar apartemen seharga Rp500 jutaan mulai meningkat, tapi belum mencapai di atas Rp1 miliar. Kondisi itu diperkirakan masih akan terjadi sampai semester pertama 2017.

Bank Dunia memprediksi ekonomi Indonesia tumbuh 5%, sementara Bank Indonesia (BI) dan pemerintah 5,1-5,3%. Angka itu, kata Panangian, belum terlalu signifikan mendorong sektor properti karena masih nyaris sama dengan 2016.

Pertumbuhan ekonomi sebesar itu akan mendorong pertumbuhan KPR sekitar 12%. Prediksi itu diperkuat oleh perkiraan BI dan Otoritas Jasa Keuangan bahwa kredit perbankan tahun ini akan tumbuh 12%, lebih besar daripada 2016 yang hanya 7,5%.

Andai ekonomi makro normal, siklus properti sudah kembali naik signifikan. “Namun, karena pengaruh krisis ekonomi yang cukup kuat, maka memperlambat,” kata Panangian. Seperti diketahui, pada 2015 ada devaluasi mata uang yuan China, tahun lalu British Exit, ketidakterpilihan Hillary Clinton, dan ketidakpastian Donald Trump. “Berurutan masalahnya.”

Walau begitu, Panangian meyakini bahwa siklus properti tetap lebih kuat ketimbang pengaruh ekonomi global. “Banyak orang mengharapkan 2016 sudah bangkit karena adanya sentimen tax amnesty. Tapi ternyata tidak. Penyebabnya tadi, karena pertumbuhan ekonomi tidak mampu mengangkat daya beli masyarakat sehingga berpengaruh pada permintaan properti,” jelasnya.**

 #Siklus Properti