BERITA PROPERTI
Informasi Terkini Seputar Bisnis Properti
Soal Perumahan, Yang Perlu “Diobati” Suplai, Bukan Demand Nya

Di sela-sela perayaan hari ulang tahun asosiasi Real Estate Indonesia (REI) ke - 45 di Taman Budaya Garuda Wisnu Kencana, Bali, awal april lalu. Ketua umum DPP REI  Soelaeman Soemawinata menyatakan bahwa asosiasi nya menargetkan membangun 210.000 rumah sederhana (RSH) tahun ini. 

Sebagai upaya memenuhi target itu, Soelaeman akan membidik tiga pasar, yakni pegawai negeri sipil (PNS), anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI), dan pekerja di sekitar kawasan industri. Setidaknya ada 10 daerah yang ingin diandalkan dalam memasok rumah untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) tersebut.

 
Meski masih jauh dari pencapaian Program Pembangunan 1 Juta Unit yang dicanangkan pemerintah, pengamat properti Panangian Simanungkalit menilai target itu masuk akal. “Sebab, jika dalam kondisi ekonomi yang belum baik saja tahun lalu REI berhasil membangun 210.000 rumah, maka target yang sama akan terealisasi karena ekonomi sekarang akan lebih baik,” katanya.
 
Menurutnya, REI sudah berpengalaman selama 45 tahun di industri properti sehingga jika mematok target tersebut tentu sudah penuh perhitungan.  Apalagi ketua umum REI yang sekarang berjanji akan memfokuskan ke pemenuhan papan untuk MBR. “Yang tidak masuk akal itu kan Program Sejuta Rumah,” katanya.
 
Mengapa dikatakan tidak masuk akal? Panangian menjelaskan bahwa jika REI saja hanya sanggup membangun 210.000 unit dalam setahun, bagaimana mungkin akan ada pembangunan rumah secara nasional sebanyak 4-5 kali lipatnya. Lantas, yang membangun siapa? Toh, stimulus yang diberikan pemerintah berupa pemangkasan proses perizinan seperti yang tercantum dalam Paket Kebijakan Ekonomi XIII beberapa waktu lalu tidak ada pengaruhnya.
 
Ada beberapa hal yang membuat Program Sejuta Rumah bagus tapi bagaikan khayalan. Pertama, kewenangan daerah yang demikian besar telah menghambat program yang dicanangkan pemerintah pusat. Pasalnya, pemerintah daerah memiliki fokus yang telah disusunnya sendiri dan cenderung tidak sejalan dengan program dari pemerintah pusat.
 
Kedua, pemerintah lebih fokus pada pembangunan infrastruktur ketimbang perumahan. Ketiga, meski sudah ada Paket Kebijakan Ekonomi yang menyederhanakannya, dalam praktiknya perizinannya masih tetap berbelit-belit. “Sekarang ini yang selalu diupayakan untuk diobati adalah demand-nya, padahal yang bermasalah supply-nya,” kata Panangian.
 
Lebih Baik
 
Pertumbuhan ekonomi nasional tahun ini akan lebih baik daripada tahun lalu, kuartal kedua 2017 akan lebih lebih baik daripada kuartal pertama, dan semester kedua akan lebih baik daripada semester sebelumnya. Itu sebabnya, jika data yang dirilis REI bahwa telah berhasil membangun 210.000 rumah tahun lalu benar, maka target dengan angka yang sama tahun ini diyakini akan terpenuhi.
 
Masalahnya, apakah angka itu benar-benar riil? REI mendapatkan data dari laporan anggota, dan “Penggelembungan sedikit pasti ada. Jadi, kalau dilaporkan sekian unit, kira-kira yang benar 70%-nyalah,” ungkap Panangian seraya mengacu pada data Bank Indonesia yang menyebutkan rumah terbangun setiap tahun rata-rata 150.000-180.000 unit saja.**