BERITA PROPERTI
Informasi Terkini Seputar Bisnis Properti
Bisnis Properti Tetap Melaju

JAKARTA — Sejumlah pihak menilai keputusan bank sentral AS atau The Fed menaikkan Federal Funds Rate sebesar 25 basis poin tak akan menghambat pemulihan yang tengah berlangsung di sektor properti tahun ini. Direktur Ciputra Group Harun Hajadi mengatakan, kenaikan suku bunga the Fed belum dibarengi dengan peningkatan suku bunga di Indonesia sehingga tidak berdampak terhadap sektor properti di Tanah Air.

Bank Indonesia memutuskan tetap mempertahankan suku bunga acuan 7 Days Repo Rate (7-DRR) pada level 4,75%. “Akan tetapi, kalau di Indonesia  uku bunga itu akan naik, pengaruhnya ke sektor properti akan terlihat karena kenaikan suku bunga adalah salah satu musuh industri properti,” katanya kepada Bisnis, Minggu (19/3)

Direktur Eksekutif Pusat Studi Properti Indonesia (PSPI) Panangian Simanungkalit mengatakan, kendati peningkatan suku bunga the Fed diprediksikan  masih terjadi dua hingga tiga kali lagi dalam setahun ini, hal itu tak akan terlalu berpengaruh banyak terhadap sektor properti nasional. Kondisi itu dikarenakan saat ini  per bankan di Indonesia tak akan
mengalami kesulitan likuiditas dari melimpahnya dana instrumen pengampunan pajak.

Belum lagi siklus properti yang tengah rehat selama 2 tahun terakhir ini bersiap untuk naik kembali (rebound). Dia menilai, saat ini rata-rata perbankan nasional telah mengambil 
langkah kebijakan untuk mengikuti siklus pertumbuhan properti sehingga tak akan banyak terpengaruh pada kebijakan Bank Indonesia yang hanya  bersifat mengamankan.
Sektor properti, lanjutnya, masih menjadi sasaran empuk bagi perbankan untuk menyalurkan kredit mereka dengan porsi kredit macet yang mulai berkurang.

Konsumen pasar properti juga dianggap sebagai konsumen yang loyal dibandingkan dengan sektor lain dengan jangka waktu angsuran puluhan tahun.

JORJORAN
Panangian menuturkan, saat ini perbankan mulai jorjoran dalam melakukan berbagai promosi suku bunga rendah tetap selama 2 tahun dan berbagai bentuk promosi lainnya. Kondisi itu diikuti dengan optimisme dari konsumen yang mengajukan kredit perbankan untuk kredit pemilikan (KPR) rumah mengalami peningkatan. Perbankan telah memproyeksikan peningkatan permintaan terhadap kredit umum mampu tumbuh dua digit. Oleh karena itu, permintaan kredit properti tahun ini pun diprediksikan mencapai 12 % dengan kecenderungan bisa melampaui pertumbuhan kredit umum perbankan.

“Ini sinyal bisnis, tentunya bagi perbankan tidak ada rencana menarik dari rencana bisnisnya hanya karena kenaikan tipis suku bunga the Fed,” ujarnya. General Manager Proyek Grand Depok City Tony Hartono belumme lihat pengaruh kenaikan suku bunga the Fed dalam jangka waktu panjang. Menurutnya, pertumbuhan industri properti tahun ini akan lebih banyak dipengaruhi oleh kebijakan lokal antara tiap-tiap pengembang dan perbankan yang digandeng dalam berstrategi.

SUMBER : Koran BISNIS INDONESIA

#Bisnis Properti Tetap Melaju