BERITA PROPERTI
Informasi Terkini Seputar Bisnis Properti
Harapan Pengembang Kandas Di Karenakan Pasar Properti Di Indonesia Baru Pulih Pada Semester II Tahun 2017, Ini Alasannya

 

Direktur Eksekutif Pusat Studi Properti Indonesia (PSPI) Panangian Simanungkalit memprediksi kebangkitan pasar properti Indonesia baru terjadi pada semester kedua tahun 2017 mendatang.

"Bukan akhir tahun ini, atau kuartal pertama 2017, seperti yang dikatakan pengamat lain. Kalau amnesti pajak (tax amnesty) dikatakan sebagai pendorong utama pemulihan, itu keliru," ujar Panangian, di Jakarta pada Rabu (14/12/2016).

Menurut Panangian Simanungkalit, selama ini pengembang dikondisikan punya harapan besar terhadap program amnesti pajak khususnya pengalihan harta (repatriasi) akibat prediksi dan pengamatan prematur. 

Akibatnya, pengembang merasa kecewa setelah beberapa bulan penjualan proyeknya tidak kunjung mengalami peningkatan.

Panangian menjabarkan, para wajib pajak pemegang dana dan aset di luar negeri yang ikut amnesti pajak adalah para investor yang sudah matang. 

Para investor tersebut akan mempertimbangkan instrumen investasi mana yang paling menguntungkan mereka, likuid, dan juga paling menarik untuk di investasikan.

Mereka tidak langsung menaruh uangnya di sektor properti. Mereka juga akan melihat nilai tukar Rupiah seperti apa. Kalau masih fluktuatif pasti mereka akan tahan, sebaliknya kalau memang stabil lain soal," ucap dia.

Maka dari itu dari total pengalihan harta senilai Rp 144 triliun yang tercatat pada Direktorat Jenderal (Ditjen) Pajak Kementerian Keuangan, Panangian belum melihat ada aliran besar ke sektor properti.

Para investor masih melihat perkembangan ekonomi yang ada setelah tatanan politik berubah, dikarenakan terpilihnya Donald Trump sebagai presiden Amerika Serikat (AS).

Kondisi pasar masih menunggu kepastian kenaikan suku bunga di Fed Rate, pengumumam anggota kabinet, serta pelantikan Donald Trump beserta pembantu-pembantunya pada Januari 2017.

"Setelah itulah, baru ketahuan arah politik, dan ekonomi di AS serta dampaknya terhadap perekonomian Indonesia. Barulah setelah tiga bulan baru terlihat pasar properti akan menuju ke arah mana," imbuhnya..

Secara keseluruhan, pertumbuhan ekonomi Indonesia tak akan beranjak jauh dari angka 5,1 hingga 5,3 persen.

Meskipun demikian, Panangian berkata, pemerintah bisa mengantisipasi hal tersebut dengan mengeluarkan berbagai kebijakan fiskal, moneter, dan belanja dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). 

Kalau pajak tidak bisa ditingkatkan maka masih harus diselesaikan. Karena itu, boleh-boleh saja optimistis, namun harus hati-hati, dan realistis.

Sumber : Kompas.com

Baca Juga :

Kontroversi UU Tapera Antara Pengusaha Dengan Negara Guna Penuhi Perumahan Rakyat

Investasi Properti Apa Sih Yang Terus Hidup Dan Tak ada matinya?, Ini Jawabannya