BERITA PROPERTI
Informasi Terkini Seputar Bisnis Properti
Ingin Beli Rumah Dari Developer? Ini 10 Tips Membeli Rumah Dari Developer Yang Aman

 

 

mencari rumah lewat developer memang cara paling lazim dilakukan masyarakat perkotaan. Namun perlu hati – hati supaya tidak tertipu. Berikut 10 tips membeli rumah di developer yang perlu dipahami.

1. Lihat Reputasi Developer

Reputasi developer sangatlah penting. Karena rumahnya belum jadi sementara Anda sudah harus membayar lunas dan juga, pengurusan sertifikat sangat tergantung dari pengembang. Kalau Pengembangnya tidak professional menyebabkan pengurusan surat dan sertifikat akan terhambat.

2. Sertifikat Masih Atas Nama Developer

Saat awal pembelian rumah, sertifikat masih atas nama developer. Ada sejumlah proses yang harus dilalui sampai sertifikat menjadi nama pembeli.

Take – over kredit ke bank lain sulit dilakukan. Umumnya, bank tidak akan bersedia menerima take – over jika status sertifikat belum SHM atas nama pemilik.

Penjualan rumah sulit dilakukan karena calon pembeli tidak akan bisa mendapatkan SHM. Sementara, SHM itu penting buat pembeli sebagai jaminan legalitas kepemilikan tanah dan bangunan.

Oleh karena, penting sekali memastikan ke pengembang, kapan sertifikat beralih menjadi atas nama Anda.

3. Jangan Bayar DP ke Developer Sebelum KPR Disetujui

Yang perlu diingat adalah tidak ada jaminan bahwa bank  pasti menyetujui pengajuan KPR meskipun pengembang sudah bekerjasama dengan bank. Karena bank tidak hanya melihat pengembang, tetapi juga akan mengevaluasi kemampuan keuangan pembeli untuk melunasi cicilan.

Oleh karenanya, sebaiknya pembayaran DP dilakukan setelah ada keputusan persetujuan KPR dari Bank yang bekerjasama dengan developer.

Jika belum ada keputusan, sebaiknya tidak dibayar DP karena jika nanti ternyata KPR tidak disetujui, Anda harus meminta kembali DP dan itu biasanya tidak mudah.

4. Tidak Bisa Take Over KPR Jika Sertifikat Belum Di Balik Nama

Status sertifikat yang masih atas nama developer dan belum balik atas nama pembeli menyebabkan take over kredit ke bank lain tidak dapat dilakukan.

Pihak bank yang akan mengambil alih kredit (take over) akan meminta sertifikat atas nama pihak yang mengajukan kredit.  Karena bank ingin secara hukum bisa mengikat rumah yang di KPR itu sebagai jaminan.

Oleh karenanya, jika Anda berpikir melakukan take over kredit, karena alasan cicilan yang memberatkan dan bunga yang tinggi, pastikan dahulu status sertifikat rumah. Sudah atas nama Anda.

5. Ada Risiko Rumah Tidak Jadi Tepat Waktu

Beberapa risiko membeli rumah dari developer :

Rumah tidak jadi meskipun pembayaran sudah lunas. Ini adalah risiko terbesar, meskipun jarang terjadi. Untuk menghindarinya, tidak ada acara lain, selain dengan cara memilih developer yang mempunyai reputasinya baik.

Rumah jadi terlambat, tidak sesuai dengan target waktu yang dijanjikan dalam pejanjian. Ini risiko yang paling sering terjadi. Pastikan terdapat perjanjian yang mengatur denda jika developer terlambat menyerahkan rumah.

Rumah jadi tidak sesuai standar. Developer biasanya memberikan masa retensi selama 3 bulan setelah serah terima dilakukan. Selama masa retensi ini apabila ada kerusakan mengenai bangunan dan kondisi rumah masih menjadi tanggung jawab pihak developer. Pastikan semuanya tertulis di perjanjian.

6. Kewajiban Developer Jika Terjadi Wanprestasi

pembeli perlu mempelajari dengan seksama kewajiban pengembang jika terjadi wanprestasi.

Kewajiban developer diatur secara jelas dalam perjanjian jual beli.

Baca perjanjian dengan hati-hati dan teliti supaya tidak muncul masalah dan bisa dengan cepat mengambil langkah yang diperlukan jika terjadi hal yang tidak di inginkan. Sebelum menandatangani berita acara serah terima rumah, periksa dengan teliti bahwa rumah yang akan Anda terima sudah sesuai dengan apa yang diatur dalam perjanjian pengikatan jual beli (PPJB).

7. Segera AJB Jika Rumah Sudah Jadi

Anda harus mengalihkan status dari PPJB menjadi AJB sesegara mungkin. AJB dengan pengembang adalah bukti legal bahwa hak atas tanah dan bangunan sudah beralih ke pembeli. Jika belum melakukannya, hak atas tanah dan bangunan masih atas nama developer.

AJB sudah bisa dilakukan pada saat :

1.    Bangunan rumah telah selesai dibangun dan siap dihuni;

2.    Pembeli telah membayar lunas seluruh harga tanah dan bangunan rumah, beserta pajak dan biaya-biaya     lainnya yang terkait dengan itu.

3.    Permohonan Hak Guna Bangunan atas tanah sudah selesai diproses, dan sertifikat Hak Guna Bangunan terdaftar atas nama penjual.

AJB harus dibuat di hadapan Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT). Secara hukum Peralihan Hak atas tanah dan bangunan tidak bisa dilakukan di bawah tangan.

8. Segera Urus Status SHM

Setelah AJB dibuat, pembeli mendapatkan sertifikat SHGB (Sertifikat Hak Guna Bangunan) dari pengembang.Developer sebagai badan hukum yang tidak diperbolehkan memiliki tanah dengan status Hak Milik (SHM). Developer hanya bisa memiliki tanah serta  bangunan dengan status Hak Guna Bangunan (HGB).

Sertifikat Hak Guna Bangunan (“SHGB”) hanya memberikan hak kepada pemegangnya memanfaatkan tanah untuk mendirikan bangunan di atas tanah yang bukan miliknya, karena kepemilikan tanah tersebut dipegang oleh Negara, dengan jangka waktu paling lama 30 tahun. Setelah jangka waktu tersebut berakhir, SHGB dapat diperpanjang paling lama 20 tahun.

9. Segera Urus IMB (Ijin Mendirikan Bangunan)

Undang-Undang 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung, mensyaratkan bahwa untuk mendirikan bangunan gedung di Indonesia diwajibkan untuk memiliki Ijin Mendirikan Bangunan (IMB).

Tidak memiliki IMB maka: (1) bangunan bisa disegel oleh pihak berwenang; (2) bangunan tidak bisa di diajukan kredit ke bank; (3) Tidak bisa mengurus peningkatan status SHM.

IMB merupakan landasan sah kita mendirikan bangunan, yang di dalamnya tercantum data bangunan. Mulai dari peruntukan, jumlah lantai dan detil teknis yang menjadi lampirannya.

Berdasarkan IMB, bank atau pihak lain dapat menilai bahwa bangunan yang menjadi jaminan KPR dibangun sesuai peraturan. Seperti sesuai dengan peruntukan lokasi, misalnya ruko memang dibangun di area komersil; rumah tinggal dibangun di lokasi yang diijinkan untuk hunian.

Pastikan bahwa bangunan Anda memiliki IMB.

10. Jangan Lakukan Transaksi Jual Beli Bawah Tangan

Muncul beberapa pertanyaan mengenai proses jual beli yang dibawah tangan. Apakah aman atau tidak.

Apabila rumah yang akan dibeli masih dalam status dijaminkan di bank, lakukanlah pengalihan kredit pada Bank yang bersangkutan dan dibuat akte jual beli di hadapan notaris.

Jangan sekali-kali melakukan transaksi pengalihan kredit “di bawah tangan”, artinya atas dasar kepercayaan saja dan tanda buktinya hanya berupa kwitansi biasa, karena bank tidak mengakui transaksi yang seperti ini.

Nah itu dia 10 tips membeli rumah dari developer yang aman. Semoga bermanfaat bagi yang ingin membeli rumah dari developer dan terhindar dari developer yang nakal ya. Nantikan tips dan trick dari panangian school of property lainnya.

 

Sumber Gambar : Google

 

Baca Juga :

Mau Tinggal Di Apartemen? Perhatikan Biaya Ekstra Tinggal Di Apartemen Berikut Ini

Paket Kebijakan Ekonomi XIII Usaha Pemerintah Dalam Menggairahkan Sektor Properti

Tingginya Ruang kosong Perkantoran Di DKI Menguntungkan Banyak Penyewa, Ini Alasannya