BERITA PROPERTI
Informasi Terkini Seputar Bisnis Properti
Jangan Salah Langkah!

HARUS diakui bahwa 2015 merupakan tahun yang kurang ramah bagi industri properti di Tanah Air. Permintaan pasar meredup setelah “berpesta pora” dua tahun sebelumnya. Lihat saja promo yang disodorkan para pengembang, sampai-sampai tak sedikit yang menawarkan pembelian tanpa uang muka.
 
Tahun sudah berganti. Kuartal pertama 2016 segera terlewati. Namun, sampai saat ini masih banyak yang meragukan kalau bisnis properti akan segera pulih kembali. Keraguan itu dipicu oleh aksi pemutusan hubungan kerja (PHK) yang terjadi belakangan ini.
 
Kalau dicermati, sebenarnya bisnis properti bergerak sesuai siklusnya. Ketika inflasi rendah, suku bunga acuan Bank Indonesia (BI rate) rendah, maka suku bunga kredit pemilikan rumah (KPR) juga rendah. Begitu pun sebaliknya, kala inflasi naik, BI rate naik, suku bunga ikut naik, sehingga konsumen memilih menunda pembelian.
 
Itu sebabnya, permintaan properti sepanjang tahun lalu kurang menggembirakan. Bandingkan dengan 2011-2013, inflasi rendah, BI rate hanya 5,75%, sehingga memicu suku bunga KPR lebih murah. Faktor-faktor tersebut yang mendorong sektor properti menjadi booming.
 
Memang inflasi 2015 rendah, malah paling rendah dalam lima tahun terakhir, yakni hanya 3,35%. Tapi, BI rate-nya masih berada di angka 7,5%. Mengapa tahun ini diyakini akan lebih baik? Karena BI telah menurunkan BI rate secara signifikan. Pada 14 Januari lalu, BI memangkas BI rate dari 7,5% menjadi 7,25%. Sebulan kemudian, tepatnya 18 Februari, BI kembali menurunkan BI rate menjadi 7%.
 
Penurunan BI rate sebesar 50 basis poin dalam dua bulan pertama 2016 mengindikasikan bahwa ekonomi makro kian membaik yang diikuti oleh lebih baiknya pasar properti. Sebab, pasar properti mulai menggeliat ketika ekonomi bergerak ke arah yang lebih baik. Urutannya adalah inflasi yang rendah, diikuti BI rate dan suku bunga KPR yang rendah, sehingga daya beli masyarakat meningkat.
 
Tentu saja tidak instan. Efeknya akan terasa 3-6 bulan ke depan. Saat ini saja permintaan rumah menengah bawah dengan harga maksimal Rp500 juta dan apartemen di bawah Rp600 juta sudah bergerak naik, walau memang tidak terlalu signifikan. Kenaikan yang cukup berarti akan terlihat pada semester kedua tahun ini.
 
Jika melihat indikator yang ada, bisnis properti pada permulaan tahun ini akan tumbuh 8-10%. Sepanjang tahun diperkirakan akan membukukan pertumbuhan 12-15%. Ini sesuai dengan target BI di mana jumlah uang beredar untuk KPR tahun ini lebih banyak daripada tahun lalu, dengan target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,3%, lebih tinggi ketimbang realisasi tahun sebelumnya sebesar 4,7%.
 
Patut dimaklumi sebagian orang meragukan prediksi pertumbuhan itu mengingat akhir-akhir ini PHK di mana-mana. Akan tetapi, harus dicermati pula bahwa jumlah investasi yang masuk ke Indonesia, baik relokasi pabrik dari Jepang maupun Tiongkok, akan berdampak pada terciptanya lapangan kerja yang lebih banyak.
 
PHK yang terjadi sekarang ini hanyalah langkah penyesuaian dari perusahaan-perusahaan terhadap kondisi pasar normal. Itu sekadar bentuk efisiensi. Kenyataannya, dunia bisnis, termasuk bisnis properti, tahun ini akan lebih baik karena ekonomi tumbuh lebih tinggi.
 
Kebijakan ekonomi pemerintah yang telah mencapai jilid 10 disambut baik oleh investor-investor regional. Indonesia dipandang lebih baik karena negara-negara di Eropa belum pulih dari krisis ekonomi. Amerika dan Brazil juga demikian. Tiongkok tertekan oleh menurunnya pasar ekspor. Negara tetangga Malaysia menghadapi masalah politik. Pilihan terbaiknya adalah Indonesia.
 
Berdasarkan data dari Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), nilai komitmen investor di Indonesia dalam satu bulan pada Januari 2016 saja mencapai Rp206 triliun. Sebanyak Rp38 triliun merupakan penanaman modal dalam negeri, sedangkan Rp168 triliunnya berupa investasi asing. Nilai itu naik 119% jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu (Rp94 triliun).
 
Besarnya investasi itu tentu akan menciptakan lapangan kerja yang lebih banyak dibanding penyesuaian-penyesuaian tadi. Dengan terciptanya lapangan kerja, maka pertumbuhan ekonomi akan terjadi. Salah satu bukti Indonesia tetap menjadi sorotan investor asing adalah ketika banyak pasar modal negara lain bergerak minus, Indeks Harga Saham Gabungan terus tumbuh positif.
 
Tapi, sekali lagi, efek maksimalnya akan terasa pada semester kedua 2016. Oleh sebab itu, saat ini pengembang mesti tetap pintar-pintar membaca pasar. Apabila pengembang ingin melakukan ekspansi, pastikan proyek itu untuk pangsa pasar yang benar-benar tepat.
 
Ekspansi itu pun harus diimbangi dengan strategi promosi yang menarik sehingga dapat membuahkan transaksi sesuai yang diinginkan perusahaan. Memang banyak berita yang beredar mengatakan perekonomian kita sedang rapuh, tetapi justru sekaranglah saat yang tepat bagi masyarakat untuk membeli properti karena harganya tidak terlalu tinggi.
 
Edukasi pengembang kepada masyarakat sangat penting, terutama memberi pengertian bahwa harga properti sekarang masih berada di posisi bawah. Para pengembang harus mendorong masyarakat agar jangan sampai terlambat membeli properti karena jika menunggu dua tahun lagi harganya sudah naik signifikan.