BERITA PROPERTI
Informasi Terkini Seputar Bisnis Properti
Makin Ekspansif Berkat REIT

Pada awal Februari lalu PT Lippo Karawaci Tbk. mengumumkan bahwa Lippo Mall Indonesia Retail Trust (LMIRT) Management Ltd., anak perusahaan Lippo Karawaci yang bergerak di bidang manajemen aset yang berbasis di Singapura, tengah dalam proses penyelesaian akuisisi Lippo Mall Kuta, Bali.
 
Dalam waktu bersamaan, juga ada akuisisi bersama terhadap Lippo Plaza Jogja dan Siloam Hospitals Yogyakarta oleh LMIRT dan First REIT. Nilai akuisisi LMIRT terhadap Lippo Mall Kuta sebesar Rp800 miliar, sedangkan akuisisi bersama antara LMIRT dan First REIT terhadap Lippo Plaza Jogja dan Siloam Hospitals Yogyakarya mencapai Rp900 miliar.
 
Dari data yang diumumkan ke publik, Lippo Plaza Jogja dihargai Rp500 miliar, sementara Siloam Hospitals Yogyakarta Rp400 miliar. Jika digabungkan, dua transaksi yang dilakukan LMIRT dan First REIT menggunakan fasilitas REIT itu mencapai Rp1,7 triliun.
 
Lippo Group memang satu kelompok bisnis di Tanah Air yang paling serius menggarap Real Estate Investment Trust (REIT) atau Kontrak Investasi Kolektif (KIK) Dana Investasi Real Estat (DIRE) setidaknya sampai saat ini, meski yang bermain anak usahanya (LMIRT) yang berdiri di Singapura. Di Indonesia, Lippo Group meluncurkan REIT melalui PT Ciptadana Asset Management.
 
Kita masih ingat dengan Ciptadana Asset Management yang mengakuisisi Solo Grand Mall senilai Rp356 miliar menggunakan fasilitas KIK DIRE. Ciptadana kemudian memanfaatkan aset tersebut sebagai underlying assets KIK DIRE Ciptadana Properti Ritel Indonesia. Beredar kabar Ciptadana akan mengakuisisi aset lain setelah Solo Grand Mall, tapi belum terjawab hingga kini. 
 
REIT memang menarik untuk dibahas. Sebab, REIT merupakan salah satu alternatif pembiayaan bagi pengembang properti dan pilihan investasi bagi masyarakat yang akhir-akhir ini ramai dibicarakan. Pelaksanaannya diatur dalam Peraturan Badan Pengawas Pasar Modal-Lembaga Keuangan No. IX.M.1 Tahun 2007.
 
REIT sudah dilakukan di banyak negara dan berhasil menjadi salah satu alternatif pengumpulan dana dan investasi. Di Negeri Merlion ada Singapore REITs (S-REITs), di Negeri Kanguru ada Australian REITs (A-REITs), di Negeri Matahari Terbit ada Japan REITs (J-REIT), dan masih banyak lagi contoh lainnya, terutama di negara asalnya, Amerika.
 
Biasanya properti-properti yang bisa dibiayai melalui REIT adalah pusat perbelanjaan, perkantoran, hotel, dan rumah sakit karena mendatangkan pendapatan berulang (recurring income). Properti-properti semacam itu lantas menarik investasi dari masyarakat melalui pola REIT. Hasilnya kemudian dipakai pengembang untuk ekspansi ke produk properti lainnya.
 
Tidak hanya di luar negeri, REIT di Indonesia juga berpotensi berkembang pesat. Bayangkan, berapa besar dana pensiun yang memungkinkan bisa diputar melalui REIT. Pada 2014, nilainya mencapai Rp192,90 triliun. Nilai itu terus naik setiap tahunnya. Tahun sebelumnya saja tercatat Rp162,45 triliun. 
 
Dana dari 242 Dana Pensiun Pemberi Kerja itu apabila diinvestasikan di REIT akan sangat menarik. Kenapa? Karena obligasi dan deposito bersifat jangka pendek dan cenderung tergerus inflasi. Sementara properti berkembang berkat nilainya yang naik setiap tahun (capital gain) ditambah perolehan dari biaya sewa (yield)-nya.
 
Bahkan, investasi di REIT lebih aman daripada produk-produk investasi lainnya. Saham, misalnya, selalu berfluktuasi. Terkena isu sedikit saja sudah jatuh. Properti tidak. Apalagi dengan pertumbuhan kelas menengah yang sedang booming, tidak ada ceritanya pusat perbelanjaan yang sepi. Kalau ada yang sepi itu karena salah urus dan tidak layak diterima di REIT.
 
REIT itu merupakan pembiayaan terhadap aset properti yang sudah ada. Karena itu, kalau ada yang salah urus, tidak mungkin bisa dibiayai menggunakan skema REIT. Manajer investasi sudah menghitung semua itu, termasuk lokasi dan okupansinya.
 
REIT lebih menguntungkan sebagai alternatif investasi karena properti bisa menghasilkan capital gain 15% dan yield 7% per tahun. Sementara deposito hanya 6%, itu pun masih dipotong pajak dan terkikis inflasi. REIT makin menarik setelah Presiden Joko Widodo memangkas pajak penghasilan finalnya dari 5% menjadi 0,5% dan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan bagi aset REIT dari maksimum 5% menjadi hanya 1%.
 
Dengan demikian, pengembang tak perlu ragu untuk menarik dana dari REIT—yang sistem pembiayaan ini sudah terbukti berhasil di berbagai negara, dan bagi investor juga tak perlu ragu untuk menginvestasikan dananya karena lebih aman dan menguntungkan. Pengembang mana sih yang tak mau berekspansi lebih cepat? Siapa sih yang tak mau uangnya berlipat dengan minim risiko?