BERITA PROPERTI
Informasi Terkini Seputar Bisnis Properti
Sinyal Terang Mulai Tampak

Bank Indonesia (BI) selalu merilis hasil risetnya mengenai perkembangan pasar perumahan di Tanah Air setiap triwulan sekali. Dalam kondisi ekonomi yang kurang maksimal seperti sekarang ini, apa yang dirilis Bank Sentral tersebut menjadi lebih menarik dari biasanya. Sebab, semua pebisnis menunggu angka yang dikeluarkan sekaligus kebijakannya.
 
Beberapa waktu lalu, BI mengumumkan hasil riset terbarunya yang menyoroti pertumbuhan pasar perumahan triwulan pertama 2016. Dalam Indeks Harga Properti Residensial tiga bulan itu diketahui bahwa harga rumah rata-rata hanya meningkat 0,99% dibanding triwulan sebelumnya. Namun, masih melambat ketimbang setahun lalu sebesar 4,15%.
 
Dari data itu, dapat dicermati bahwa sebetulnya bukan persoalan seberapa besar persentase kenaikannya, melainkan kenaikan yang kecil itu mengindikasikan siklus properti sudah mencapai titik terendah dan siap melaju kembali. Itulah pesan yang ingin disampaikan BI. Itulah hasil dari kebijakan mereka yang telah menurunkan BI rate dari 7,5% tahun lalu menjadi 6,5% sekarang ini.
 
Sejak awal sudah dapat diprediksi kalau sektor properti akan bangkit kembali pada semester kedua 2016. Tahun lalu, sektor ini berada di titik terbawah, paling dasar, kini mulai terlihat ada kenaikan, meskipun kecil sekali. Pada semester kedua, kondisinya sudah pasti akan lebih baik lagi karena suku bunga kredit pemilikan rumah (KPR) yang ditawarkan bank-bank juga mulai turun.
 
Tidak hanya sebatas itu, BI juga bersedia memperlonggar kebijakan loan to value (LTV)-nya dari 30% menjadi 25% untuk rumah kedua dan dari 40% menjadi 35% untuk rumah ketiga. Artinya, LTV-nya diturunkan sebesar 5% yang memungkinkan orang untuk membeli properti. Walaupun jika lebih dari 5% akan lebih menarik pastinya.
 
Tidak perlu muluk-muluk, kenaikan setipis yang terjadi pada triwulan pertama saja telah memberikan tanda bagaikan malam menjelang subuh yang pancaran sinar mataharinya mulai terasa. Tidak penting berapa besarannya. Besaran baru penting ketika terjadi kenaikan signifikan. Kalau sekarang ini yang lebih penting adalah arah kebijakan yang ada.
 
Jika bicara arah, tentu bicara kepastian. Terkadang bisnis menjadi lesu karena arah kebijakan pemerintah tidak jelas. Dalam mengambil kebijakan terkait suku bunga acuan, BI sendiri juga selalu menunggu langkah The Fed, Amerika Serikat. Ketika The Fed tidak menaikkan suku bunganya, seperti pertengan bulan lalu, BI langsung mengeluarkan kebijakan menurunkan BI rate. 
 
Demikian pula dengan pemilik uang, saat ini mereka masih menunggu bagaimana kebijakan pemerintah terkait pengampunan pajak (tax amnesty) yang diwacanakan. Itu berarti dalam bisnis ini membutuhkan kepastian kebijakan dari pemerintah. Kalau memang benar pengampunan pajak itu diberlakukan, industri ini juga akan meraup imbasnya. 
 
Kebijakan pengampunan pajak belum berlaku saja bisnis properti mulai menunjukkan tanda-tanda positif. Memang pergerakan itu baru terjadi pada properti kelas menengah-bawah yang sudah ada dengan harga di bawah Rp1 miliar. Tapi, karena di bawah Rp1 miliar, maka pertumbuhannya akan kian cepat. Harus diakui properti di atas Rp1 miliar belum merasakan dampak dari kebijakan-kebijakan BI. 
 
Meskipun begitu, sekali lagi, itu pertanda baik. Apabila kebijakan pengampunan pajak sudah berlaku, maka dana-dana dalam jumlah yang sangat besar akan masuk ke dalam negeri. Itu akan menambah baik lagi. Sebab, diprediksi dana-dana itu akan lari ke pasar modal, obligasi, dan reksadana. Tapi, kalau dana itu milik personal kebanyakan akan diarahkan ke investasi properti.
 
Oleh karena itu, kebijakan pengampunan pajak akan berpengaruh besar terhadap sektor properti, baik pasar primer (primary market) maupun pasar sekunder (secondary market). Nah, dana-dana yang masuk dari hasil pengampunan pajak itulah yang akan mendorong tumbuhnya permintaan properti dengan harga di atas Rp1 miliar.
 
Jadi, belakangan ini dunia bisnis semakin dewasa. Hal itu dibuktikan dengan tak terpengaruhnya antara bisnis dengan politik. Berbeda dengan zaman Orde Baru yang selalu ada jeda untuk mengetahui siapa yang diangkat di jajaran kabinet, sekarang ini sudah tidak begitu. Berapa kali pemilihan presiden dan kepala daerah, bisnis tetap jalan. 
 
Investor-investor sekarang ini sudah lebih berpengalaman dalam menghadapi berbagai gejolak ekonomi. Kredit macet di bank juga lebih rendah dibanding sebelum reformasi ekonomi 1997/1998. Dalam bisnis, terutama properti, saat ini yang benar-benar mempengaruhi pasar adalah daya beli dan kebijakan BI. Oleh sebab itu, hasil riset BI yang menunjukkan adanya kenaikan harga residensial, walau amat kecil, sudah seperti sinyal terang yang mulai tampak.